Perkembangan Batik Solo

June 3, 2020 | By eddye | Filed in: Gaya Hidup.

Batik Solo dalam Perkembangannya turut diwarnai oleh berdirinya Keraton Surakarta tahun 1745 yang berawal dari perpecahan Keraton Surakarta dan Keraton Ngayogyakarta yang merupakan dampak dari perjanjian Giyanti tahun 1755. Pada akhirnya, semua busana kebesaran Kerajaan Mataram dibawa ke Keraton Yogyakarta. Sedangkan di waktu yang sama, Pakubuono III memerintahkan kepada seluruh para abdi dalem untuk membuat sendiri motif batik yaitu motif batik Gagrak Surakarta. Perintah PB III itulah akhirnya masyarakat berlomba-lomba untuk membuat corak batik yang baru. Muncul begitu banyak motif batik yang berkembang di masyarakat solo. PB III juga mengeluarkan peraturan tentang penggunaan kain batik yang hanya boleh dipakai di dalam keraton. Terdapat beberapa motif tertentu yang hanya diizinkan untuk dipakai di lingkungan keraton dan ada yang dilarang.

Corak – corak batik solo yang dilarang dipakai oleh rakyat tetapi diizinkan untuk digunakan oleh para patih dan kerabat PB III dilingkungan keraton pada waktu itu diantaranya adalah, batik parang, batik sawat dan batik cemukiran yang berujung bagai paruh burung podang, , minyak teleng serta berwujud tumpal, bagun tulak dan juga batik cemukiran yang berujung lung.

Sementara itu, para abdi dalem yang bertugas untuk merancang batik yang diperuntukkan bagi kepentingan keraton. Mereka banyak yang tinggal di luar keraton pada saat itu, sehingga terbentuklah beberapa komunitas perajin batik seperti di Kusumodiningratan, Kratonan, Kauman maupun Pasar Kliwon. Bahan yang digunakan  serta pewarnaannya pun masih tetap memakai bahan lokal seperti soga Jawa.

Pada akhirnya Batik sebagai warisan budaya adiluhur bangsa Indonesia konon berkembang secara perlahan sejak masa Kerajaan Majapahit. Nah, salah satu batik yang memilik sejarah adalah batik solo. Batik Solo yang sering dikenal dengan batik Laweyan sudah berkembang sebelum abad 15 Masehi semasa pemerintahan  Sultan Hadiwijaya di Keraton Pajang. Pada masa itu para pengrajin batik laweyan tengah mengembangkan beberapa industri batik tulis dengan pewarna alami sehingga desa laweyan menjadi kawasan penghasil batik tertua di Indonesia. Di desa Laweyan Orang  pertama kali yang memperkenalkan batik adalah Kyai Ageng Henis Ki Ageng Henis merupakan putra dari  Ki Ageng Selo yang juga keturunan Brawijaya V.

Beli Baju Batik dan kain batik berkualitas dengan harga terjangkau di https://batik-s128.com/


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *